
( Kepala Madrasah )
Mentari pagi baru saja menyembul di ufuk timur Bekasi, memantulkan sinarnya pada papan nama kokoh bertuliskan Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 2 Bekasi. Di gerbang sekolah, seorang pria berwibawa dengan senyum khas yang teduh tampak sedang menyapa para siswa yang berdatangan. Beliau adalah H. Saeroni, sang nahkoda yang telah memimpin madrasah ini sejak tahun 2018 hingga sekarang.
Bagi keluarga besar MTsN 2 Bekasi, tahun 2018 adalah awal dari sebuah babak baru. Ketika pertama kali menapakkan kaki sebagai Kepala Madrasah, H. Saeroni membawa sebuah visi besar: membawa madrasah ini bukan hanya unggul dalam iman dan takwa (imtak), tetapi juga adaptif dan berprestasi di era digital.
Meniti Jembatan Perubahan (2018 - Sekarang)
Memimpin sebuah lembaga pendidikan selama hampir satu dekade tentu bukan tanpa ombak. Sejak awal menjabat, H. Saeroni langsung dihadapkan pada tantangan modernisasi fasilitas dan kurikulum. Dengan pendekatan yang humanis namun tegas, beliau mulai membenahi tata kelola madrasah, memotivasi para guru untuk melek teknologi, dan merangkul orang tua siswa sebagai mitra karib pendidikan.
Tantangan terbesar pun datang ketika pandemi melanda beberapa tahun lalu. Di saat banyak sekolah kebingungan, ketegasan H. Saeroni dalam mengambil keputusan digitalisasi sistem pembelajaran menjadi penyelamat. MTsN 2 Bekasi berhasil melewati masa-masa sulit itu dengan tangguh, bahkan bertransformasi menjadi salah satu madrasah yang menjadi rujukan dalam inovasi belajar di Bekasi.
"Menjadi pemimpin di madrasah bukan soal pangkat, tapi soal bagaimana kita meletakkan fondasi akhlak dan ilmu untuk generasi masa depan,"
begitulah prinsip yang selalu beliau tekankan dalam setiap rapat koordinasi.
Dedikasi yang Tak Lekang oleh Waktu
Hingga hari ini, di tahun kesekian masa baktinya, semangat H. Saeroni tidak pernah surut. Di bawah kepemimpinannya, MTsN 2 Bekasi terus mengukir berbagai prestasi, baik di bidang akademik, keagamaan, hingga seni dan olahraga. Beliau berhasil menciptakan atmosfer sekolah yang religius namun tetap kompetitif dan menyenangkan bagi anak-anak usia remaja.
Setiap sore, ketika bel pulang telah lama berdentang dan lorong-lorong madrasah mulai sepi, lampu di ruang kerja H. Saeroni sering kali masih menyala. Beliau masih di sana, memeriksa berkas, merencanakan program kerja berikutnya, atau sekadar berdiskusi dengan para guru.
Bagi H. Saeroni, perjalanan panjang sejak 2018 ini bukanlah akhir, melainkan sebuah estafet perjuangan yang harus terus dirawat dengan keikhlasan demi mencetak generasi muda Bekasi yang cerdas dan berakhlakul karimah.